Kembalinya Megadeal: Mengurai Kebangkitan M&A pada 2026

Setelah beberapa tahun mengalami perlambatan, aktivitas merger dan akuisisi (Mergers & Acquisitions/M&A) global kembali melonjak pada 2025. Nilai transaksi meningkat 43% menjadi US$4,7 triliun, naik dari US$3,3 triliun pada tahun sebelumnya dan sekitar 20% di atas rata-rata sepuluh tahun sebesar US$3,9 triliun, menurut analisis McKinsey.

Namun, angka utama tersebut menyembunyikan karakteristik pemulihan yang tidak biasa: volume transaksi secara umum tetap relatif datar, sementara lonjakan nilai terutama didorong oleh transaksi-transaksi terbesar, bukan oleh kebangkitan pasar yang merata.

Pemulihan yang Ditopang oleh Transaksi Raksasa

Ciri utama pemulihan M&A pada 2025 adalah tingginya konsentrasi transaksi. Megadeal—transaksi dengan nilai di atas US$5 miliar—menjadi pendorong utama pertumbuhan, dengan transaksi bernilai US$10 miliar atau lebih mendominasi paruh kedua tahun tersebut.

PwC menggambarkan kondisi ini sebagai pasar yang “berbentuk K” (K-shaped) dan terpolarisasi. Perusahaan besar dan sponsor finansial yang memiliki modal kuat mampu tetap melakukan transaksi meskipun menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian suku bunga. Sebaliknya, pelaku yang lebih kecil menghadapi tantangan lebih besar kecuali mereka memiliki keunggulan strategis yang jelas dan meyakinkan.

Dinamika ini berlanjut hingga 2026. Para pemimpin praktik transaksi di PwC melihat kembalinya animal spirits—istilah yang menggambarkan meningkatnya optimisme dan keberanian investor untuk mengambil risiko. Mereka memperkirakan nilai transaksi akan tetap tinggi meskipun volume transaksi masih terbatas, dengan aktivitas yang terkonsentrasi pada pembeli yang memiliki akses modal terbesar.

Bain mengambil pandangan yang lebih berhati-hati. Mereka mencatat bahwa aktivitas pada kuartal pertama 2026 relatif moderat karena tekanan makroekonomi serta besarnya investasi strategis yang sedang diarahkan ke bidang-bidang seperti kecerdasan buatan (AI) dan jaringan serat optik (fiber networks).

Tiga Faktor yang Membentuk Lanskap Tahun Ini

1. AI Mengubah Strategi Akuisisi

Kecerdasan buatan tidak hanya menjadi objek investasi, tetapi juga mengubah cara perusahaan merancang strategi akuisisi mereka. AI mempercepat kebutuhan perusahaan untuk memperoleh skala usaha, kapabilitas teknologi, data, dan talenta berkualitas.

Akibatnya, aset yang memiliki kualitas tinggi, ketahanan bisnis yang kuat, dan relevansi terhadap AI mendapatkan valuasi premium di pasar.

2. Ketimpangan Antarwilayah

Pasar M&A global tidak berkembang secara merata. BCG mencatat bahwa momentum pertumbuhan paling kuat terjadi di Eropa dan Amerika, sementara kawasan Asia-Pasifik masih tertinggal dibandingkan kedua wilayah tersebut.

Perbedaan kondisi ekonomi, kebijakan investasi, dan tingkat kepercayaan pasar menjadi faktor yang memengaruhi kesenjangan ini.

3. Regulasi Semakin Ketat

Banyak negara memperbarui aturan terkait pengawasan merger dan investasi asing. Kondisi ini membuat strategi transaksi lintas negara menjadi semakin kompleks.

Perusahaan yang ingin berhasil dalam transaksi besar harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai rezim regulasi sekaligus, serta merancang struktur transaksi yang fleksibel dan sesuai dengan persyaratan di berbagai yurisdiksi.

Momentum Terkuat Berada pada Sektor yang Mengalami Transformasi Besar

Aktivitas transaksi paling aktif terjadi pada sektor-sektor yang sedang mengalami perubahan struktural signifikan, antara lain:

  • Teknologi, media, dan telekomunikasi (TMT)
  • Jasa keuangan
  • Kesehatan
  • Energi dan utilitas

Selain itu, peningkatan anggaran pertahanan di berbagai negara turut mendorong aktivitas M&A di sektor dirgantara dan pertahanan. Dalam sektor ini, ketahanan rantai pasok dan keamanan sumber pasokan menjadi faktor yang sangat diperhatikan oleh investor maupun pembeli strategis.

Mengapa Perusahaan Melakukan Akuisisi?

Data survei KPMG menunjukkan bahwa tujuan utama aktivitas M&A saat ini bukan sekadar memperbesar ukuran perusahaan, melainkan memperkuat posisi strategis.

Motivasi yang paling sering disebutkan meliputi:

  • Memasuki pasar baru
  • Memperkuat bisnis inti
  • Memperoleh teknologi baru
  • Mendapatkan talenta yang sulit dibangun secara internal

Pada saat yang sama, perusahaan juga semakin aktif mengevaluasi kembali portofolio bisnis mereka. Sekitar setengah responden survei memperkirakan aktivitas carve-out—pemisahan atau penjualan unit bisnis non-inti—akan meningkat dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.

Dengan kata lain, perusahaan kini tidak hanya agresif dalam mengakuisisi aset baru, tetapi juga semakin disiplin dalam melepaskan aset yang tidak lagi sesuai dengan strategi jangka panjang mereka.

Akuisisi Bukan Satu-satunya Pilihan

Menariknya, akuisisi penuh bukan lagi satu-satunya instrumen pertumbuhan yang digunakan perusahaan.

Di sektor yang bergerak cepat dan menghadapi keterbatasan modal, seperti industri otomotif, perusahaan semakin memilih:

  • Aliansi strategis
  • Joint venture
  • Investasi minoritas yang terarah
  • Kemitraan teknologi

Pendekatan ini digunakan untuk mempercepat pengembangan kendaraan listrik, perangkat lunak otomotif, dan teknologi kendaraan otonom tanpa harus melakukan akuisisi besar yang membutuhkan modal sangat besar.

Implikasi bagi Pelaku Bisnis dan Investor

Pelajaran utama bagi para pengakuisisi pada 2026 adalah bahwa kondisi pasar hampir tidak pernah terasa “sempurna”. Menunggu hingga pemulihan terjadi secara menyeluruh berisiko membuat perusahaan tertinggal dari pesaing yang bergerak lebih cepat.

Keunggulan akan dimiliki oleh pembeli yang:

  • Memiliki akses terhadap modal yang memadai
  • Mempunyai dasar investasi yang jelas dan terukur
  • Mampu mempertahankan disiplin valuasi
  • Siap menghadapi kompleksitas regulasi

Dalam pasar yang semakin terpolarisasi, faktor pembeda utama bukanlah kemampuan menebak waktu pasar (market timing), melainkan kualitas strategi dan kemampuan eksekusi.

Pada akhirnya, perusahaan yang berhasil bukan hanya mereka yang mampu menutup transaksi terbesar, tetapi mereka yang dapat mengubah transaksi tersebut menjadi sumber pertumbuhan dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

Artikel ini merupakan bagian dari seri Business Advisory GK Group. Seluruh angka yang disajikan berdasarkan data yang tersedia secara publik pada saat penulisan.

Share this